Seputar Peradilan
Hakim PA Suwawa Mengikuti Upacara Peringatan Hari Patriotik

Suwawa | pa-suwawa.go.id
Pagi ini, Minggu tanggal 23 Januari 2022, Sunyoto, S.H.I.,S.H.,M.H., selaku hakim Pengadilan Agama Suwawa mewakili Ketua Pengadilan Agama Suwawa mengikuti upacara di Kantor Bupati Bone Bolango Provinsi Gorontalo untuk memperingati Hari Patriotik atau yang dikenal dengan hari kemerdekaan gorontalo yang ke-80. Kegiatan tersebut juga diikuti oleh Forkopimda Kabupaten Bone Bolango. Seusai melaksanakan upacara di Kantor Bupati, selanjutnya rombongan berangkat menuju makam Hi Nani Wartabone di Jl. Makam Nani Wartabone di Kecamatan Suwawa Kabupaten Bone Bolango untuk melaksanakan upacara penghormatan kepada Pahlawan Nasional tersebut serta dilanjutkan dengan tabur bunga di makam Sang Plokamator Kemerdekaan Gorontalo tanggal 23 Januari 1942 tersebut.

Sekilas mengenai Nani Wartabone, Dalam buku Republik Indonesia: Provinsi Sulawesi (1953:205), disebut Nani Wartabone menjadi kepala militer pemerintahan darurat, sementara Kusno Danupoyo menjabat kepala sipil Pemerintahan darurat terkoneksi dengan gerakan kemerdekaan di Sulawesi Tengah. Nani Wartabone lahir di kalangan keluarga berada, ayahnya bekerja untuk Pemerintah Hindia Belanda, ibunya seorang ningrat. Meski tak pernah hidup susah, bukan berarti ia tega tutup mata untuk rakyatnya.
Nani Wartabone kecil tak sampai hati melihat rakyat kecil dihukum, meski mereka tahanan ayahnya sekalipun. Ia benci sekolah karena guru-gurunya yang orang Belanda mengagung-agungkan Negeri Belanda setinggi langit dan merendahkan tanah airnya. Pada 23 Januari 1942, tiga tahun sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, ia sudah menyatakan kemerdekaan. Kala itu, pasukan yang dipimpin Nani Wartabone menangkap semua pejabat Belanda di Gorontalo. Ribuan warga Gorontalo turun ke jalan tanpa memandang suku, agama, dan jabatan. Mereka menduduki kantor-kantor Pemerintahan Belanda. Kepala Polisi, Asisten Residen, dan Kepala Kontrol ditahan.
Bendera penjajah pun diturunkan, Merah Putih dikibarkan di depan Kantor Pos Gorontalo. Peristiwa saat itu dikenal sebagai Hari Patriotik, sebutan lainnya: proklamasi kecil. Yos Wartabone, anak Nani Wartabone, merupakan saksi hidup yang melihat langsung perjuangan ayahnya melawan penjajah Belanda.
Konon, Nani Wartabone memiliki bermacam kekuatan yang saat itu membentengi dirinya saat berada dalam medan pertempuran. "Nani Wartabone dikabarkan bisa menghilang, bisa menjadi benda apa saja yang dia mau seperti berubah menjadi pohon besar. Bahkan menurut sejarah, Bapak Nani Watabone pernah lolos beberapa kali percobaan pembunuhan. Seperti contoh kala itu Nani Wartabone ditangkap dan akan ditembak mati. Namun, entah ada hal gaib apa seluruh senjata Belanda itu tidak meledak," ungkap Abdullah Pakaya, seorang saksi sejarah.
Untuk mengenang perjuangannya di kota Gorontalo dibangun Tugu Nani Wartabone untuk mengingatkan masyarakat Gorontalo pada kejadian yang bersejarah pada 23 Januari 1942. Namanya juga diabadikan untuk Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Sulawesi Utara.

